AsahanTV I Kisaran – Untuk waspadai tingginya angka dispensasi nikah dan perceraian akibat pernikahan dini, Pengadilan Agama (PA) Kisaran Kelas 1A bersama Universitas Royal Kisaran menggelar kuliah umum. Kegiatan yang mengangkat tema kedewasaan dalam berumah tangga ini berlangsung pada Kamis (7/5/2026) di Kampus universitas Royal.
Implementasi Agreement (IA) antara Ketua PA Kisaran, Evawaty, S.Ag, M.H, dengan Ketua Program Studi Hukum Universitas Royal, Junaidi Sholat, S.H, M.H, menandatangani gelaran ini sebagai wujud sinergi dan kolaborasi kedua lembaga.
Dalam sambutannya, Junaidi Sholat menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkret untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai konsep kedewasaan dalam perkawinan, tidak hanya dari aspek usia, tetapi juga kesiapan emosional, psikologis, hingga ekonomi.
“Kami ingin memberikan edukasi yang utuh mengenai dampak negatif dari pernikahan dini. Besar harapan kami, kegiatan ini dapat menambah wawasan sekaligus mempererat kerja sama di antara kita,”ujar Junaidi.
Sementara itu, Ketua Pengadilan Agama Kisaran, Evawaty, dalam materinya menjelaskan definisi dan dasar hukum perkawinan. Menurutnya, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Evawaty juga menyoroti ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menetapkan batas usia minimal menikah bagi pria dan wanita adalah 19 tahun.
“Usia 19 tahun dinilai sebagai usia yang ideal karena telah memberikan kesiapan fisik dan mental yang lebih matang untuk membangun rumah tangga yang langgeng dan sejahtera,”tegasnya.
Ketua HMPS Hukum Universitas royal Ahmad Fauzy Surya Purba mengatakan mendukung penuh kegiatan kuliah umum tersebut. Kuliah umum sangat penting untuk memperluas wawasan mahasiswa di luar kurikulum reguler, untuk mengenalkan tren industri terkini, dan menghadirkan praktisi ahli.
“Kegiatan ini menjembatani teori akademik dengan praktik nyata, meningkatkan soft skill, serta memperluas pemahaman tentang tantangan zaman yang mana situasi sekarang menentukan masa depan bangsa dan negara,”tambahnya. (Gus)