AsahanTV I Kisaran – Menjelang satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Asahan, Taufik – Rianto, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kisaran – Asahan menilai pemerintahan Kabupaten Asahan tidak memiliki arah masa depan.
Rendi Ardiansyah Sinaga
selaku Ketua Bidang Demokrasi Politik HMI Cabang Kisaran – Asahan menilai Kepemimpinan Taufik-Rianto Gagal.
Alih-alih menghadirkan perubahan, pemerintahan Kabupaten Asahan justru memperlihatkan wajah kepemimpinan yang lemah, absen, dan miskin terobosan. Bupati Asahan dinilai gagal menunjukkan kehadiran sebagai pemimpin daerah. Ketidakhadirannya dalam berbagai agenda strategis pemerintahan bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi mencerminkan krisis kepemimpinan yang serius.
“Jika seorang kepala daerah jarang hadir dalam momentum penting pemerintahan, lalu siapa yang sebenarnya mengendalikan arah pembangunan Asahan,”ujar Rendi Sinaga kepada AsahanTV saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026) di Kisaran.
Lebih memprihatinkan, Wakil Bupati Asahan justru tampil sebagai simbol pencitraan tanpa substansi. Kasus penyegelan tempat hiburan malam menjadi bukti paling telanjang. Penyegelan yang dilakukan Wakil Bupati sempat dipamerkan sebagai langkah tegas. Namun realitas di lapangan justru bertolak belakang. Tempat hiburan malam kini semakin menjamur di Kabupaten Asahan, dengan sedikitnya sekitar sepuluh titik lokasi yang beroperasi bebas.
“Penyegelan yang katanya tegas ternyata hanya sandiwara politik tanpa keberlanjutan kebijakan. Pemerintah daerah seolah kalah oleh pelanggaran yang mereka sendiri gagal kendalikan,”tegasnya.
Di sisi lain, birokrasi Kabupaten Asahan juga berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Masih banyak pejabat pembantu kepala dinas yang tidak menempati jabatan secara definitif, serta penempatan pejabat yang tidak relevan dengan kompetensi dan kebutuhan organisasi. Ini bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan bukti nyata bahwa tata kelola pemerintahan dijalankan tanpa arah, tanpa profesionalisme, dan tanpa keseriusan.
“Asahan tidak boleh terus dipimpin oleh kepemimpinan yang rapuh, birokrasi yang kacau, dan kebijakan yang hanya berhenti pada panggung media. Kritik ini bukan sekadar serangan politik, tetapi alarm keras bagi masa depan Kabupaten Asahan,”ujar Rendi. (Red)