
ASAHAN – Bentuk aksi protes jalan rusak sepanjang 20 kilometer warga Desa Gajah Sakti, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, membangun kuburan di tepi jalan.
Diketahui, jalan tersebut berstatus milik pemerintah Kabupaten yang sejak dari dulu setiap pergantian Bupati dan Wakil Bupati Asahan tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah setempat.
Tampak dalam aksi tersebut, warga membuat tulisan sebagai batu nisan “Sudah 79 Tahun Wafatnya Jalan Gajah Sakti Bandar Pulau Asahan”. Karena sampai saat ini, belum ada tanda-tanda pembangunan infrastruktur di desa tersebut.
M. Yusuf Manurung, selaku warga setempat mengatakan, kalau jalan Desa Gajah Sakti pernah dijanjikan akan dibangun. Hingga sampai saat ini jalan desa kami belum juga terealisasikan.
“Jalan rusak itu sepanjang 20 kilometer kurang lebih, dengan kondisi tanah berlumpur dan berbatuan. Apalagi kalau sudah hujan dan banjir, jalan kami ini seperti kubangan kerbau main lumpur”, ucap Yusuf
“Sejumlah warga bergantung pada akses jalan tersebut, karena baik perekonomian, pendidikan dan kesehatan jalan ini satu-satunya kehidupan warga”, ujar Yusuf
Sementara Kepala Desa Gajah Sakti, Yudi Kurniawan Sitorus, menjelaskan status jalan itu merupakan jalan Kabupaten. Sejak Indonesia merdeka, desa kami ini belum pernah mendapatkan perhatian ataupun pembangunan dari pemerintah setempat.
“Untung disini ada masyarakat swadaya gotong royong selalu, makanya jalan ini bisa dilalui warga. Mungkin kalau tidak ada gotong royong, jalan ini tidak akan bisa dilalui masyarakat”, kata Kades
“Jalan ini merupakan jalan penghubung dari empat desa, yaitu desa Perkebunan Padang Pulua, Gajah Sakti, Buntu Maraja dan Gunung Berkat”, ungkap Kades
Mereka juga meminta kepada Presiden Prabowo Subianto, agar meninjau dan melihat langsung jalan desa tersebut. Karena sejak Indonesia merdeka belum pernah ada pembangunan.
Dengan aksi ini warga berharap kepada Pemerintah Kabupaten dan Pusat untuk segera memperbaiki akses jalan desa tersebut. (Red)